Our Thoughts

Reading Rules with Rationality and Responsibility

Reading Rules with Rationality and Responsibility

#BePro with Rules:

Reading Rules with Rationality and Responsibility

Oleh @bryangunawan

Bryan Gunawan adalah pakar komunikasi dan pengembangan profesionalisme untuk berbagai sektor mulai dari pendidikan, kepemudaan, pemerintah dan korporasi. Bryan Gunawan dapat disapa melalui akun twitter @bryangunawan. Bryan bisa disapa di akun twitternya @bryangunawan. Tanyakan apa saja terkait dengan pengembangan profesionalisme di kolom ini dan Bryan akan memfasilitasi rasa ingin tahu anda. —– “Unjust laws exist: shall we be content to obey them, or shall we endeavor to amend them, and obey them until we have succeeded, or shall we transgress them at once?” – Henry David Thoreau Pepatah tua mengatakan “Peraturan diciptakan agar dunia ini lebih baik,”. Katanya, jika kita menjadi professional, maka kita taat hukum dan aturan. Maka dari itu peraturan tidak menggunakan logika, maka dari itu harusnya kita taati karena “sudah menjadi aturannya begitu.” Satu hal yang sering terlupa adalah bagaimana kemanusiaan berkembang seiring dengan berjalannya waktu: secara sosial, peraturan akan terus berubah dan menyesuaikan perkembangan jaman. Kadangkala, ada peraturan yang dianggap tidak adil, atau tidak sesuai. Pertanyaannya, bagaimanakah kita menyikapi suatu peraturan? Rasionalitas. Peraturan diciptakan oleh manusia dengan suatu tujuan untuk sekelompok orang. Jika tujuan ini tidak tercapai, maka sudah selayaknya peraturan ini disesuaikan agar peraturan itu tercapai. Yang seharusnya dilakukan adalah: Menyikapi dengan akal sehat, manfaat dan konsekuensinya. Apakah manfaat dari peraturan tersebut? Apakah mencapai manfaat yang seharusnya? Apakah konsekuensi dari peraturan ini terlalu besar? Ketika dibandingkan dengan manfaat dari peraturan itu sendiri, apakah konsekuensi nya melebihi manfaatnya? Ataukah sebaliknya? Jawaban dari pertanyaan di atas akan menentukan apakah peraturan ini menjadi layak ditaati atau tidak. Dan sudah seharusnya kita menanggapi segala aturan dengan rasionalitas, bukan ketakutan. Inilah yang menjadikan seseorang mantap secara professional – karena kemampuan professional seseorang diukur dari kinerjanya, dan kinerjanya diukur dari bagaimana ia mampu menembus batas – bedakan dengan melanggar aturan. Peraturan ada untuk dipahami dan dicerna, baru kemudian ditaati. Bukan sekedar takut akan peraturan itu sendiri. “Most modern freedom is, at root, fear. It is not so much that we are too bold to endure rules; it is rather that we are too timid to endure responsibilities.” – G. K. Chesterton, What’s Wrong with the World Tanggung jawab, elemen kedua dalam menyikapi peraturan. Segala sesuatu diatur di dunia ini karena profesionalisme meliputi tanggung jawab. Kebanyakan diatur dalam konsep etika. Contoh: sebagai seorang siswa, sangat wajar dan bertanggung jawab jika kita menaati guru. Sebagai seorang karyawan, sangat wajar dan bertanggung jawab jika kita menaati bos. Yang menarik di sini adalah: jika kita, sebagai seorang karyawan, ingin mengingatkan bahwa apa yang diputuskan oleh bos kurang tepat, bagaimana kita menyampaikannya? Apakah salah dan kurang ajar jika disampaikan. Jika kita menganut norma dan adat Timur, maka “manjawab” bos merupakan suatu sikap yang salah dan tidak sopan. Karena aturan mengatakan bahwa kita harus taat dan baik pada bos. Ini yang kemudian menciptakan ungkapan “asal Bapak senang”. Tapi konsekuensinya seringkali terlalu besar: Bapak senang, semua runtuh. Lantas bagaimana? Menyampaikan pendapat bukanlah suatu dosa. Menyampaikan pendapat dengan kurang ajar mungkin menjadi suatu dosa. Masalahnya adalah, ketika kita tidak menyampaikan dan memutuskan untuk mengikuti aturan dan menciptakan “Asal Bapak Senang”, kita juga turut bertanggung jawab dalam kekacauan yang terjadi. Karena kita bisa mengubah keadaan, tapi kita memutuskan untuk diam saja. Tanggung jawab ini yang saya maksud. Jika kita memiliki kekuatan itu, mengapa tidak dimanfaatkan? Toh bukannya kita menjadi kurang ajar dan pada akhirnya fokusnya menjadi kurang ajar, bukan? Yang terjadi adalah kita ingin mengubah keadaan dan dengan niat baik itulah, kita menyampaikan pendapat. Mengikuti aturan juga ada tanggung jawabnya – tidak hanya sekedar taat aturan maka kita menjadi individu yang baik, ataupun professional. Namun dengan menyadari tanggung jawab dari suatu keputusan kita bisa menjadi individu yang professional. Marilah kita sikapi peraturan dengan akal sehat, dan rasa tanggung jawab, Karena aturan diciptakan oleh kita, untuk kita, dan dari kita. Setiap dari kita memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan, bukan hanya peradaban. @bryangunawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered By