Our Thoughts

masbrooo-indahnya-perbedaan

Membangun Karakter Bangsa Tanpa Perbedaan

Oleh @bryangunawan

Bryan Gunawan adalah pakar komunikasi dan pengembangan profesionalisme untuk berbagai sektor mulai dari pendidikan, kepemudaan, pemerintah dan korporasi.

Bryan Gunawan dapat disapa melalui akun twitter @bryangunawan.

Tanyakan saja terkait dengan komunikasi pendidikan di kolom ini dan Bryan akan memfasilitasi rasa ingin tahu anda.

—–

“How important it is for us to recognize and celebrate our heroes and she-roes!” – Maya Angelou

Berhadapan dengan manusia yang notabene memiliki karakter, kepribadian dan ditambah perbedaan jenis kelamin seringkali menjadi satu hal yang sangat menantang dalam dunia pendidikan.

Banyaknya pengaruh budaya dan lingkungan yang berpendapat bahwa “wanita seharusnya tidak mengenyam pendidikan terlalu tinggi, karena pada dasarnya tugas wanita hanyalah mengurus anak dan suami di rumah” membuat pendidikan bagi perempuan menjadi suatu permasalahan yang banyak didiskusikan oleh kalangan praktisi pendidikan.

Akan tetapi, di zaman modern ini wanita sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Banyak sekali wanita yang memiliki potensi yang sama kuat dan sama hebatnya dengan pria. Ditambah lagi dengan adanya era emansipasi wanita yang membuat wanita menjadi sosok yang lebih berani dan lebih ekspresif untuk mengutarakan apa yang mereka inginkan. Sebagai contohnya, kemunculan figur-figur wanita yang mampu menjadi pemimpin dan menjadi individu yang berpengaruh di dunia seperti Margaret Thatcher yang merupakan perdana menteri wanita pertama di Inggris dan Megawati Soekarno Putri yang merupakan presiden wanita pertama di Indonesia.

Sementara, pendidikan bersifat memperkuat. Edukasi adalah proses jangka panjang dalam rangka memperkuat karakter dan kepribadian setiap individu. To educate is to empower, demikian seringkali orang berkata.

Banyaknya kesibukan dalam sistem pendidikan seringkali membuat kita lupa untuk memperhatikan bahwa edukasi bukan hanya sekedar mentransfer ilmu, tapi juga merupakan proses untuk memperkuat karakter individu. Ada beberapa prinsip yang sangat penting untuk diperhatikan dalam pendidikan berbasis penguatan. Oleh karena itu, ada perbedaan yang harus diperhatikan dalam rangka mendidik setiap anak-anak kita:

1. Equally Human

Seringkali kita lupa bahwa mengakui setiap anak didik sebagai subjek bukan sebagai objek merupakan hal yang penting, di tengah kesibukan kita berusaha mengembangkan sistem pendidikan dan berjuang di dalamnya.

Mampu mengakui baik murid pria dan wanita sebagai “manusia yang setara” yang artinya menganggap mereka sebagai pelaku, dan bukan hanya penerima. Melihat mereka sebagai individu yang aktif dalam menerima dan kemudian menerjemahkan informasi yang diterima ke dalam konstruksi berpikir yang aktif.

Caranya? Kita sebagai pendidik di setiap waktu dapat terus mengapresiasi bagaimana anak-anak berkontribusi positif dalam setiap hal, sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan diri anak didik. Hal ini menjadi suatu penyeimbang yang tidak hanya memperhatikan sisi negatif nya saja.

Kita juga dapat membuka diri terhadap saran anak-anak dan berdiskusi dengan mereka, dan tidak hanya sekedar berkata “Ini adalah peraturan, maka kamu harus menaatinya.”, tapi juga menjelaskan alasan dibalik peraturan tersebut sehingga mereka bisa memahami dengan lebih mendalam dan dapat memutuskan tindakannya dengan lebih bijak tidak hanya sekedar menaati.

2. Equally Potential

Seringkali kita terlalu cepat menempelkan “cap” pada individu bahwa anak ini hanya bisa melakukan ini, hanya bisa melakukan itu, hanya dengan bertemu beberapa kali. Padahal apa yang kita lihat belum tentu menggambarkan potensi besar yang dimiliki anak tersebut. karena potensi seorang anak tidak terbatas. Semua anak tidak hanya “berbakat” akan sesuatu, tapi juga memiliki potensi yang besar untuk menjadi seorang yang ahli dalam suatu atau beberapa bidang.

Hanya karena seorang anak memilih jurusan akuntansi, bukan berarti dia tidak bisa menjadi sutradara film, bukan? Demikian pula dengan seorang anak yang hobi melakukan sesuatu, tapi tidak “berbakat”, tidak berarti bahwa dia tidak bisa berkembang pada bidang yang menjadi hobinya.

Caranya? Motivasi. Marilah kita hargai setiap keinginan anak-anak kita untuk berkembang di bidang yang dia sukai. Karena suatu potensi akan menjadi maksimal dengan dukungan yang tepat.

Kita juga dapat mendampingi anak-anak ini dalam proses akademiknya agar tanggung jawabnya dalam sistem pendidikan seperti dalam hal-hal kemampuan dasar tetap tercapai, sehingga tidak serta-merta terlupa. Hal ini akan membuat anak kita merasa didampingi dengan baik, merasa dihargai dan akhirnya dapat mengembangkan potensinya.

3. Equally Self-Driven

Seringkali kita menganggap bahwa anak didik kita tidak memiliki dorongan untuk maju dan berkembang yang mengakibatkan kita menganggap remeh terhadap kemampuan mereka dalam belajar. Anggapan ini mengakibatkan banyak anak didik kita terpuruk dalam sistem pendidikan.

Pada dasarnya, setiap anak memiliki dorongan untuk maju. Mereka menginginkan kemajuan, yang mungkin kemajuan yang diharapkan oleh anak berbeda dengan kemajuan yang diharapkan oleh kita sebagai orangtua atau pendidik. Namun, apapun yang diharapkan dan menjadi minat anak seringkali tergantung dari apa yang mereka serap dan pelajari dari lingkungannya. Karena walau bagaimanapun lingkungan membawa pengaruh yang besar dan menjadi salah satu penentu yang utama terhadap keberhasilan anak selain kemauan yang kuat dari anak tersebut.

Oleh karena itu, anak harus diberikan kepercayaan dan rasa hormat (trust and respect). Dengan perlakuan penuh kepercayaan dan rasa hormat itulah anak menjadi menumbuhkan rasa kepercayaan kepada kita yang membuat anak mudah menerima dan mendengarkan apa yang menjadi nasihat atau saran yang kita berikan karena kita berbicara dari hati ke hati dan memperlakukan anak dengan baik. Hal ini berlaku untuk seluruh kalangan.

Saya pernah mengajak berbicara seorang anak usia kelas 4 SD secara mendalam, dan mengajaknya untuk bersama-sama memperbaiki diri. Anak tersebut merupakan anak yang sangat aktif, dia sangat suka berlarian di kelas saat saya sedang mengajar, dan saya bertanya mengapa dia melakukan hal tersebut, dan menjelaskan bagaimana saya terluka ketika saya tidak didengarkan. Hasilnya menakjubkan. Anak ini hanya butuh diingatkan bahwa perilaku tersebut membuat oranglain tidak nyaman dan kemudian dia bisa mulai memperbaiki sikapnya dengan duduk manis di kelas saya tanpa harus merasa kelasnya mengekang dirinya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pada dasarnya anak-anak ini menginginkan hal yang sama dengan kita yaitu untuk maju dan memperbaiki diri.

Pada akhirnya, terlepas dari karakter, kepribadian, dan perbedaan apapun, dengan mengedepankan semangat kesetaraan maka anak akan mampu menyesuaikan diri dengan lebih baik dalam sistem pendidikan dan tidak perlu merasa “berbeda” atau “tidak sesuai”.

Mudah-mudahan, dengan kesetaraan, anak kita akan bertumbuh menjadi generasi muda baru yang dapat menjadi harapan bangsa yang lebih maju.

Salam, demi Indonesia yang lebih maju,

@bryangunawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered By