Our Thoughts

love vs lust

Leading with Love versus Leading with Lust

Menjadi Pemimpin Pendidikan

Leading with Love versus Leading with Lust

Oleh @bryangunawan

 

Bryan Gunawan adalah pakar komunikasi dan pengembangan profesionalisme untuk berbagai sektor mulai dari pendidikan, kepemudaan, pemerintah dan korporasi.

Bryan Gunawan dapat disapa melalui akun twitter @bryangunawan.

Bryan bisa disapa di akun twitternya @bryangunawan. Tanyakan apa saja terkait dengan pengembangan profesionalisme di kolom ini dan Bryan akan memfasilitasi rasa ingin tahu anda.

—–

“To educate the intelligence is to expand the horizon of its wants and desires.” – James Russell Lowell

Menjadi pendidik bukanlah suatu hal yang mudah.

Menjadi pendidik berarti menjadi pemandu untuk melebarkan batas wawasan seorang generasi muda.

Menjadi pendidik berarti menjadi seorang pemimpin yang menunjukkan luasnya dunia ini.

Pepatah tua mengatakan “Dunia ini tidak selebar daun kelor,”. Ya, suatu nasihat yang dipegang teguh oleh seluruh pemimpin di dunia ini, baik memimpin keluarga, kelas, organisasi, maupun perusahaan, dalam rangka menjangkau orang-orang yang dipimpinnya agar melangkah lebih maju untuk menggapai dunia.

Seringkali saat kita sudah dipercaya untuk menjadi seorang pemimpin, kita menjadi lupa akan tujuan awal dan berubah menjadi hasrat terpendam untuk kepentingan dan kepuasan pribadi yang berujung pada ambisi.. Suatu ambisi yang seringkali kita lampiaskan saat membimbing generasi muda. Ya, tentunya ini semua adalah harapan agar generasi muda lebih maju lagi di masa depan. Tapi harapan ini menjadi suatu ambisi yang kemudian menempatkan generasi baru ini di ujung tanduk, ketika ambisi ini berubah menjadi suatu “nafsu”.

Dalam bahasa Inggris, lust dikenal sebagai suatu hasrat terpendam yang luar biasa hebat. Gairah dalam konteks negatif. Dan ketika kita leading with lust, yang seringkali terjadi adalah suatu kemunduran, alih-alih kemajuan. Mengapa begitu? Mari kita bedah.

Leading with LUST versus Leading with LOVE

Looking down vs Listening
Uniformity vs Originality
Show-off vs Visual
Target vs Evolution

 

Pertama, Looking down versus Listening. Seringkali karena kita lebih berpengalaman dan terbuai dalam hasrat untuk memberi dan mengajar, kita terbawa untuk terus melihat ke bawah dan lupa bahwa kita bisa mendapatkan pengalaman baru dan menerima. Sehingga, dalam mengajar kita merasa bahwa yang sedang kita pimpin tidak tahu apa-apa dan kita merasa perlu untuk terus memberi tahu, mengakibatkan peserta didik merasa diremehkan. Akibatnya, mereka menolak untuk mendengarkan kita karena merasa dianggap rendah. Ingatkah kita sewaktu kita melihat para bayi, kita seringkali terinspirasi oleh mereka yang dapat dikatakan tidak tahu apa-apa?

Alangkah baiknya jika kita dapat mendengarkan aspirasi mereka, sehingga mereka merasa dihargai. Dengan begitu, mereka juga akan belajar menghargai diri mereka sendiri, karena mereka didengarkan. Memang sangat menantang untuk mencapai keseimbangan ini, tapi prinsipnya sederhana: jika yang kita pimpin dan didik merasa bahwa ini adalah suatu kemitraan untuk maju bersama karena ia memiliki andil dan dicintai, maka potensi dan talenta yang telah kita munculkan juga akan bertahan lebih lama karena mereka memiliki kepercayaan diri untuk bersikap dan bertumbuh secara mandiri.

Kedua, Uniformity versus Originality. Karena kita sering terpaku oleh hasil, kita seringkali menginginkan yang kita pimpin untuk menjadi seseorang seperti kita: memiliki kode etik yang sama persis, memiliki moralitas yang sama persis, memiliki kesamaan dalam berpikir, dan lain-lain. Jika kita mengejar hasrat keseragaman, tentunya dunia ini tidak akan menarik lagi karena tidak lagi kaya – dan yang kita pimpin dapat kehilangan jati dirinya, karena tidak lagi mengarah ke potensi talenta yang dimiliki oleh masing-masih individu – melainkan menjadi individu yang seragam, seperti robot, bukan lagi manusia.

Dunia ini menjadi indah karena adanya keanekaragaman. Berbagai pola pikir yang berbeda justru akan saling memperluas wawasan setiap orang yang terlibat dalamnya – the empowering minds, demikian saya senang menyebutnya. Jika kita mampu memunculkan keunikan dan originalitas individu, maka segala sesuatunya akan menjadi unik dan karya-karya baru akan dapat diciptakan karena adanya perbedaan yang justru akan memperkaya keindahan dunia. Dengan adanya cinta kasih, individu pun akan semakin berkembang dan dapat menghasilkan karya-karya yang original, alih-alih berjalan di jalan yang sama.

Ketiga, Show-off versus Visual. A show-off has no action. A show-off talks only. Tidak ada satupun anggota tim yang mau disuruh-suruh oleh seseorang yang terus berkata, “Masa seperti ini saja tidak bisa?” Jika yang kita pimpin dan didik terus dipimpin dengan cara seperti ini, alih-alih termotivasi, mereka hanya akan merasa dipojokkan dan akan mundur perlahan, dan akhirnya tidak mengeluarkan dirinya yang sejati dan mampu berkarya.

Akan tetapi, people see, people learn. Dengan memberikan contoh yang nyata dan berjalan bersamanya, secara otomatis kita akan menginspirasi individu. Jika kita menunjukkan bahwa kita juga belajar bersama mereka dan bertumbuh, dan dapat menunjukkan bahwa kita bisa lebih maju lagi, maka mereka akan terinspirasi dan merasa dicintai dan diberi perhatian cukup untuk terus maju. “berjalan dan berjuang bersama lebih indah daripada maju cepat namun terseok-seok sendirian lalu mundur perlahan, bukan?”

Akhirnya, Target versus Evolution. Menetapkan suatu tujuan atau target adalah suatu hal yang baik. Akan tetapi, ketika ‘nafsu’ membara dan ambisi berbicara, hanya tujuan lah yang menjadi pusat pembicaraan. Ketika ini terjadi, akhirnya yang terdidik dan terpimpin menjadi frustasi. “Kenapa kamu tidak pernah dapat A?”, demikian seorang ayah bertanya pada anaknya. “Kamu ini tidak akan masuk IPA kalau begini terus,” demikian tutur seorang guru kepada muridnya. memimpin hanya dengan berorientasi pada target, yang terdidik dan terpimpin akan terus merasa dirinya tidak pernah cukup, dan tidak pernah merasa utuh. Akibatnya, alih-alih termotivasi, mereka justru akan cepat menyerah karena mereka mulai mencap dirinya sebagai “Ya sudah, toh saya tidak akan mampu.”

Salah satu hal yang paling indah dalam sejarah manusia adalah evolusi. Kita belajar dari sejarah, kita berevolusi menjadi lebih baik. Ada orang yang sering berkata, What matters is the journey, not the destination. Ketika seseorang belum mencapai 100 meter, tapi sudah mencapai 60 meter padahal ia mulai dari 10 meter, berarti dia telah melangkah 50 meter. Evolusi inilah yang harus diapresiasi dan jangan pernah dilupakan. Cinta kasih dan perhatian inilah yang akan memotivasi mereka untuk terus maju, walaupun jalannya berbatu. Karena mereka ingat bahwa “jalan masih panjang, namun saya bisa”, bukan hanya “jalan masih panjang dan saya tak akan sampai.”

Ambisi adalah suatu hal yang sah-sah saja. Tapi ketika ambisi berubah menjadi suatu nafsu membara, maka perlu ada rem, karena cinta kasih-lah yang akan membentuk manusia masa depan kita menjadi utuh, produktif, dan terus berkarya demi bangsa.

 

Let’s lead with more love for the education of our future generations,

@bryangunawan

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered By