Our Thoughts

1280px-Backpacking_in_Grand_Teton_NP-NPS

Hikayat Petualang

Penulis: Aryo Moedanton

400 tahun silam, pedagang asal Maluku yang ingin menjual rempahnya ke Jakarta membutuhkan waktu kurang lebih 1-2 minggu perjalanan laut, atau jika Hindia Belanda saat itu berkenan dan jadwal tersedia, dapat dipersingkat menjadi 1 minggu perjalanan darat ke Semarang dilanjutkan dengan perjalanan lokomotif kurang lebih 2 hari dan perjalanan tersebut dapat menghabiskan biaya sekitar 4–6 juta rupiah jika dikurskan dengan kurs hari ini. Namun sekarang untuk bisa sampai ke Semarang anda hanya perlu merogoh kocek sebesar 250 ribu untuk menikmati perjalanan dengan kereta bisnis yang dilengkapi AC, tempat duduk relatif nyaman, dan waktu tempuh hanya 8-10 Jam. Ingin lebih cepat? Dalam waktu kurang dari 50 menit, pesawat udara dapat mengantarkan anda ke Semarang. Demikian pula apabila anda ingin menikmati keindahan alam Maluku. Tidak lebih dari 1 hari anda sudah dapat sampai di pulau di timur Sulawesi tersebut, bahkan mungkin sudah termasuk menikmati papeda dan sup ikan yang unik dan lezat.

Mengapa kita harus bertualang?

Indonesia dikaruniai dengan keindahan alam yang luar biasa. Tidak hanya itu, banyak juga sisi pembelajaran potensial dan krusial bagi pengembangan diri seseorang terutama mengenai kebebasan berekspresi. Mungkin sedikit terlalu jauh namun jika kita tinjau kembali, banyak esensi bertualang yang mampu membawa nilai kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab. Mari kita lihat contohnya :

Tahukah anda bahwa sangatlah wajar bagi saudara kita di daerah Sumatera Barat dan Sumatera Utara menggunakan nada tinggi dan keras ketika berbicara? Saking kerasnya kita berpikir bahwa orang tersebut sedang marah-marah. Namun bukan berarti masyarakat disana membenci anda, tetapi itulah kearifan lokal mereka yang telah ada turun-temurun. Tentu hal ini bisa anda ketahui dari Om Google atau sumber lainnya. Kalau belum merasakan sendiri berinteraksi dengan mereka secara langsung, rasaya tidak akan maksimal bukan?

Kebutuhan pertama dalam berinteraksi adalah memiliki pikiran yang terbuka. Terbuka dalam menerima banyak perbedaan dan keunikan dari masing–masing orang. Kebutuhan ini mungkin sulit dilatih ketika anda berada di lingkungan kampung halaman yang relatif homogen. Dimana anda hanya bertemu dengan orang yang itu–itu saja selama bertahun–tahun. Hal ini memeberikan dampak bagi kita untuk percaya bahwa apa yang ditemui sehari–hari adalah hal “normal” dan diluar itu adalah hal yang “tidak normal”

Mari kita tes,

  1. Apa pendapat anda tentang wanita yang bekerja sementara pria pasangannya mengurus rumah?
  2. Apa pendapat anda apabila saat anda pergi ke pasar dan membeli barang yang sama, orang setelah anda mendapatkan harga yang jauh lebih murah bahkan bisa 50% lebih murah dari yang anda bayarkan?

Mungkin anda merasa heran, tidak biasa, atau bahkan ada yang menganggap negative terhadap kedua contoh diatas. Tapi kenyataannya, di beberapa suku pedalaman Wamena kaum wanita lah yang bekerja sementara kaum pria tidak, dan harga barang di pasar bisa berubah 2 kali lipat ketika pedagang tahu anda adalah turis?

Untuk fakta yang ini, saya sendiri juga baru mengetahuinya dari pembicaraan dengan Medina Kamil, presenter dari Jejak Petualang ketika kami mengisi acara beberapa saat yang lalu.

Apakah itu hal yang aneh? Aneh bagi kita, tapi normal bagi mereka

Apakah itu hal yang salah? Salah itu harus dikategorikan sebagai hal yang subjektif, karena harus disesuaikan dengan konteks dimana kita berada.

Ketika anda berada di wilayah pegunungan Jaya Wijaya apalagi di puncak Cartenz yang bersuhu hampir dibawah 8 derajat celcius, adalah hal yang salah jika anda tidak memakai pakaian tebal. Namun jika anda berada di Pantai Panjang Bengkulu, akan salah jika anda memakai Jaket bulu angsa yang tebal

Bagaimana kita bisa mengetahui konteks?

Bertualanglah, berinteraksi dengan mereka secara langsung, pahami dan diskusikan. Ini tidak hanya memberikan dampak positif kepada anda untuk dapat memahami mereka, namun juga dapat membantu anda menghilangkan shock dalam menghadapi hal lain yang anda anggap “tidak biasa”. Ini akan meningkatkan kemampuan anda dalam menerima dan beradaptasi, yang kita setuju merupakan kemampuan yang mahal dan krusial bagi siapapun di dunia yang semakin mengglobal ini.

Jadi, kemana anda akan bertualang besok?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered By