Our Thoughts

curhatan siswa gagal

Curhatan Siswa Gagal

Potret ke-Absurd-an penilaian akademis Indonesia

By Aryo Moedanton

Pada setiap awal semester, saya selalu memiliki angan – angan untuk mendapatkan nilai A, IPK 4 atau apapun itu yang menjadi standar dari pendidikan di Indonesia. Dan saya tidak sendiri karena kebanyakan dari teman saya pasti memiliki harapan yang sama. Namun seiring berjalannya waktu, ekspektasi-ekspektasi tersebut menghilang. Secepat larinya tukang ojek di pengkolan kompleks saat ada razia kendaraan bermotor, atau ibu–ibu saat melihat sale 70% di Pusat perbelanjaan. Seperti kebanyakan murid lainnya, saya yakin saya bisa, namun saya memiliki perbedaan dalam kemampuan belajar.
Namun dari berbagai curhatan galau bercampur pembelaan diri yang saya dapat, (kebanyakan dari rekan saya yang sama nasibnya dengan saya), nilai A bukanlah patokan dalam keberhasilan seseorang. Bahkan kami sampai pada kesimpulan yang cukup tragis bahwa justru lebih banyak hal penting yang tidak mampu diukur oleh sebuah nilai A seperti usaha, berpikir kritis, kreatifitas, kemampuan kolaborasi, keingintahuan, rasa hormat, kebaikan hati, kejujuran, keterbukaan pikiran, dan banyak lagi yang kami rasa merupakan esensi yang dihilangkan dalam pendidikan.
Kekuatan internal, seperti daftar panjang di atas, jauh lebih penting untuk kehidupan yang sukses dibandingkan kemampuan saya untuk mendapatkan “A” pada ujian Integral Matematika. Bahkan, banyak tes hanya mengukur kemampuan siswa untuk menghasilkan jawaban dengan melihat kemampuan mengingat mereka. Itulah sebabnya metode belajar favorit bagi anak Indonesia sekarang adalah CBSH (Catat Buku Sampai Habis) dan HUHUHU (Hafal Ulang Hafal Ulang Hafal Ulang). Beberapa teman saya bahkan menghabiskan waktu untuk merekam buku catatan mereka untuk didengarkan kembali saat makan, tidur, mandi, bahkan momen–momen pribadi di toilet kosan.
Satu hal yang saya yakini, bagi pelajar saat ini, jawaban yang benar tidak cukup. Saat ini anak-anak yang telah mencapai masa remaja akhir, sudah mulai berpikir jauh lebih lebih kompleks. Mereka telah mampu memikirkan hubungan timbal balik, untuk mengeksplorasi batas-batas antara bidang studi yang ada di kampus, dan untuk menciptakan cara-cara baru dalam belajar. Kemampuan ini penting di pupuk sepanjang masa, dan bukan tidak mungkin akan mendasari teknologi yang inovatif dimasa yang akan datang dan menciptakan perubahan-perubahan sosial atau paling tidak, itulah pembelaan saya dan teman–teman saya mengapa kami dulu tidak mendapatkan ranking 1 dikelas.
Kadang – kadang kami berpikir, “kenapa ya disaat banyak peneliti menyadari pentingnya kekuatan internal ini, namun ujian dan penilaian masih didasari oleh penilaian berdasarkan kemampuan menghafal?”. Hipotesis saya sederhana bahwa kemampuan diatas masih sulit untuk diukur secara kuantitatif, sehingga badan pendidikan lebih memilih untuk mengukur sesuatu yang pasti seperti 1 + 1 = 2 di Matematika atau “Ini Budi, Budi adalah calon Kapolri namun tersandung kasus korupsi” di Bahasa Indonesia.
Satuhal yang ingin saya garis bawahi adalah, saya tidak mengatakan bahwa kemampuan matematika tidak penting, namun ada logical fallacy yang terjadi saat penilaian hanya dilakukan sebatas pada kemampuan seperti berhitung dan menghafal. Hal ini pada akhirnya menjadi rumus tetap di setiap kepala orang tua, bahkan bos besar perusahaan terkemuka, membuat mereka terlena dengan stigma jika seseorang mendapatkan nilai A, maka dia hebat / potensial / harapan masa depan, atau apalah itu.
Kita mungkin hidup di zaman yang terobsesi dengan angka, Satu hal yang kita tidak sadari adalah betapa pentingnya “soft skill” ini terhadap kesuksesan akademik maupun karir seorang siswa. Padahal sudah banyak penelitian menunjukkan hubungan antara pengembangan keterampilan sosial yang positif dan keberhasilan akademis yang lebih baik.
Mungkin inilah curhatan kami orang – orang yang gagal mendapatkan nilai terbaik dipendidikan kami, bahwa tujuan pendidikan seharusnya tidak hanya untuk membuat siswa yang baik, tetapi juga sebagai individu yang sempurna. Saya pikir kegagalan kami telah membuktikan bagaimana pandangan betapa pentingnya kemampuan ‘intangible’ masih belum dipahami dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered By